Memupuk SDM Yang Unggul. Menuai Indonesia Produktif. 1

Siapa yang tak sepakat dengan quotes dari Eyang Habibie di atas?

Kita semua paham. Tapi pertanyaannya seperti apa kualitas SDM yang unggul itu? Dan yang lebih penting, langkah-langkah seperti apa yang layak ditabur, demi memupuk SDM yang unggul dan berdaya saing Internasional?

Sembari menikmati khasnya aroma kopi arabika Toraja yang melegenda, mari kita simak sama-sama…

[su_heading]a. #BicaraProduktivitas[/su_heading]

Apa Yang Membuat Sebuah Negara Produktif?

Dalam sebuah artikel di The New York Times yang berjudul, “What Make a Nations More Productive?“, dijelaskan tentang adanya kesalahpahaman para ekonom pada tahun 90’an yang mengaggap bahwa faktor utama produktivitas sebuah bangsa adalah bidang teknologi.

Daniel Gross, penulis artikel tersebut menggambarkan, hal itu terjadi asbab peningkatan produktivitas tenaga kerja pada tahun 90an, yang menyentuh angka 2,5% (tertinggi selama beberapa dekade terakhir), diterka atas terobosan di dunia teknologi yang booming pada masa itu.

Babak baru kemudian muncul pada tahun 2000 hingga 2003. Resesi ekonomi yang terjadi, membuat investasi dan pasar saham di bidang teknologi pun merosok. Para analis memprediksi, pertumbuhan produktivitas akan stagnan. Kalau tidak amblas.

Tetapi faktanya, justru pada saat itu pertumbuhan produktivitas meningkat pesat. Tertinggi dalam sejarah, menyentuh angka 3,1 persen.

O..o… Nampaknya, teknologi bukan semata penentu produktivitas suatu bangsa.

Di lain sisi, laporan dari McKensey GLobal Institute, menemukan bahwa industri-industri selain teknologi informasi, justru mengalami penanjakan produkivitas.

Pada tahun 90an, McKinsey menemukan bahwa 6 dari 59 sektor industri menyumbang hampir seluruh pertumbuhan produktivitas. Diantara sektor terbesar adalah telekomunikasi, komputer dan semikonduktor.

Tapi pada tahun 2000 sampai 2003, tujuh sektor teratas hanya menyumbang 75% saja. Dan yang menarik adalah lima kontributor utama justru dari industri jasa. termasuk grosir, perdagangan, dan keuangan. Bukan industri IT.

Teknologi memang alat aktivasi yang efektif. Tetapi,” kata Ms. Diana Farrel, Direktur McKinsey, “Tanpa adanya intensitas kompetitif yang mendorong orang untuk mengadopsi inovasi, kita tidak akan melihat keuntungan semacam ini.

Dengan kata lain, harus ada faktor “people” di dalamnya. Itulah kuncinya. People yang kompetitif dan inovatif. (We’ll talk about that much later).

Negara-Negara Paling Produktif Di Dunia

Sejenak mari kita tengok, daftar negara-negara paling produktif di dunia menurut laporan dari OECD (Organization in Economic Co-operation & Development). Sebuah organisasi internasional yang terdiri dari negara-negara di seluruh dunia yang bertujuan untuk membentuk masa depan ekonomi bersama.

Berikut daftarnya:

Negara paling produktif di dunia
data by OECD | img from: twitter.com/patrickcoomans/

Mengapa Luxembourg Menjadi Negara Paling Produktif di Dunia?

Dari tahun ke tahun beberapa negara kecil di Eropa memang langganan masuk dalam daftar negara paling produktif di dunia. Bahkan bukan hanya produktivitas, tapi juga beberapa index lain seperti kebahagiaan, kemakmuran dan lain-lain.

Negara-negara minim SDA seperti Luxembourg, Norwegia, Finlandia, Swedia dan lain-lain.

Pertanyaannya, apa yang membuat mereka begitu produktif?

Jika kita lihat laporan lengkap dari OECD, ada beberapa catatan penting terkait produktivitas.

Yang paling menonjol adalah perihal jam kerja. Negara paling produktif seperti Luxembourg, norwegia dan Swedia, bahkan merupakan negara dengan jumlah jam kerja paling sedikit. Luxembourg hanya bekerja selama 29 jam seminggu. Begitupun tetangga-tetangganya.

Jadi bukan tentang kerja lebih keras. Bukan pula tentang kerja lebih lama.

Di artikel sebelumnya, saya pernah menulis tentang prinsip Lagom, yang dipegang teguh oleh orang-orang swedia. Kurang lebih semacam prinsip work-life balance.

Dan saya percaya, nilai-nilai akar yang seperti inilah rahasianya. Nilai-nilai ini bukan berbicara tentang skill dan knowledge semata. Bukan pula tentang seberapa tinggi tingkat pendidikan formal anda. Tetapi sesuatu yang lebih dalam lagi dari itu.

Apa Kabar Indonesia?

Sayangnya, saya tidak menemukan nama Indonesia di dalam daftar OECD. Itu artinya produktivitas kita masih jauh kalah dengan negara-negara maju di seluruh dunia.

Di Asean sendiri, menurut Asian Productivity Organization (APO) kita masih kalah dengan Singapura, Malaysia dan Thailand.

Produktivitas Indonesia di Asean
img from: CNBC Indonesia

Meskipun diklaim mengalami kenaikan, tapi angka ini masih jauh dari yang diharapkan. Mengingat kita punya sumber daya yang lebih dari cukup untuk itu.

Hal ini nampaknya disadari pula oleh Kadin Indonesia. Terutama dalam menghadapi era industri 4.0, Ketua Kadin, Rosan Roeslani, menghimpai para pelaku industri untuk meningkatkan kemampuan tenaga kerjanya.

Memupuk SDM Yang Unggul. Menuai Indonesia Produktif. 2
artikel tirto.id

[su_heading]b. #MemupukSDMUnggul[/su_heading]

Seperti Apa Wajah SDM Unggul Itu?

[su_quote cite=”Anthony Robbins”]”Kesuksesan ditentukan oleh 80% faktor psikologis. 20% faktor mekanikal.[/su_quote]

Selama ini kita mengaggap SDM unggul dan berdaya saing itu ditentukan oleh faktor skill dan knowledge. Saya sepakat. Tapi tidak sepenuhnya.

Hari ini, skill dan knowledge adalah dua hal yang sangat penting untuk dimiliki. Tapi ada hal yang jauh lebih penting dari itu.

Yakni: kemampuan untuk mengolah skill dan knowledge itu menjadi karya nyata. Keahlian untuk membawa diri dalam menggunakan skill dan knowledge itu.

Seperti kata penulis David Scwartz, besarnya intelegensi kita, tidak lebih penting daripada besarnya kemampuan kita dalam menggunakan intelegensi itu.

Ada banyak istilah untuk menggambarkan kemampuan ini. Penulis Daniel Goleman menyebutnya Emosional Intelligence.

Di dunia mind technology, kami menyebutnya pikiran bawah sadar. Anda bisa menyebutnya apa saja.

Intinya, itu adalah kemampuan manusia untuk membawa diri. Itulah faktor penentu unggulnya seseorang. Itulah faktor penentu unggulnya SDM.

Lebih jauh

Dalam psikologi, memang sejauh ini kita mengenal adanya dikotomi pikiran manusia.

Ada pikiran sadar vs. pikiran bawah sadar. Ada otak kiri vs. otak kanan. Otak intelektual vs. otak emosional. IQ vs. EQ.

Ini penting, sebab masalah terbesar selama ini menurut saya adalah pemberdayaan dan penggunaan bagian pikiran yang salah. Ketikdapahaman kita terhadap dikotomi pikiran ini, membuat kita membangun mindset yang salah tentang kualitas keunggulan manusia.

Hasilnya, selama ini kita hanya mengasah dan mempertajam bagian otak yang keliru. Yang pengaruhnya justru yang paling kecil dalam kehidupan seseorang.

Inilah yang menghapus keunggulan SDM kita. Dan inilah akar dari tidak efektifnya sistem pendidikan nasional, yang kita gunakan untuk membangun SDM bangsa ini.

Masalahnya sederhana: Kita terlalu berfokus pada otak intektual semata. Lupa bahwa yang paling utama dalam membangun SDM unggul adalah pengaruh otak emosional.

Porsinya tidak main-main. 80:20.

Memupuk SDM Yang Unggul. Menuai Indonesia Produktif. 3

Dan inilah yang menurut saya modal dasar membangun SDM yang unggul. SDM unggul itu berarti sehat secara mental dan emosional. Berdaya secara mindset dan soft skill. Bukan sekedar pintar, berpengatahuan luas dan hardskill.

Artikel ini, saya maksudkan untuk menilik dari sudut pandang keunggulan SDM secara mental, mindset, dan psikologis.

(Jangan Mimpi SDM Unggul! Kalau) Indonesia Masih Darurat Kesehatan Mental

Masih segar diingatan kita, beberapa waktu lampau, seorang pemuda di jagakarsa, jakarta selatan, melakukan video siaran langsung bunuh diri di facebook. Selang beberapa waktu kemudian, muncul lagi kasus seorang ibu yang tega menghabisi nyawa anak kandungnya sendiri dengan semprotan obat nyamuk, hanya lantaran sang anak sering ngompol.

Kejadian-kejadian seperti ini hanya segelintir contoh, tetapi merupakan representasi nyata, bahwa Indonesia masih darurat kesehatan mental.

Catatan: Kesehatan mental punya cakupan yang luas. Bukan semata mereka yang dianggap “gila”. Tetapi juga terhadap mereka yang mengalami stress, depresi, tidak percaya diri, kecanduan gadget, adalah bagian dari masalah kesehatan mental yang jelas-jelas menghambat produktivitas.

Terutama dikalangan para millenial, masalah kesehtan mental dianggap isu paling besar yang menghantui para millenial hari ini. Menurut WHO, generasi millenial adalah generasi yang sangat rentan terkena gangguan mental seperti stress dan depresi.

Terbukti, survey terbaru dari Blue Cross Blue Shield Association (BCBSA), merilis 10 penyakit utama yang paling banyak diderita oleh generasi millenial. Dan benar saja, urutan pertama adalah depresi.

Memupuk SDM Yang Unggul. Menuai Indonesia Produktif. 4

Generasi millenial yang kerap disebut sebagai the burnout generation, memang ditengarai belum memiliki kesiapan dalam menghadapi gejolak dan tantangan dunia baru era 4.0 ini. Khususnya dari segi kesiapan mental.

Bagaimana dengan Indonesia? Tak jauh beda.

Presentasi kesejahteraan 360 degree oleh Cigna, menyebut 75% anak muda indonesia mengalami stress dalam hidup. Rata-rata persoalan keuangan dan pekerjaan.

Merujuk data hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018, prevalensi penderita skizofrenia atau psikosis sebesar 7 per 1000 dengan cakupan pengobatan 84,9%. Sementara itu, prevalensi gangguan mental emosional pada remaja berumur lebih dari 15 tahun sebesar 9,8%. Angka ini meningkat dibandingkan tahun 2013 yaitu sebesar 6%.

Memupuk SDM Yang Unggul. Menuai Indonesia Produktif. 5
Sumber: KemenkesRI

Ketidaksiapan mental generasi millenial menghadapi dunia baru ini, adalah suatu fakta yang perlu diberi perhatian. Pasalnya kita telah memasuki era bonus demografi di tahun 2020 ini. Yang artinya tampuk kepemimpinan dan usia-usia produktif tenaga kerja indonesia dikuasai oleh generasi millenial. Lah kalau mereka gak siap gimana?

Masalahnya, sejauh ini belum terlihat adanya tanda-tanda akan adanya penanganan perihal ini dengan serius. Mental health, masih menjadi low priority issue untuk ditangani. Belum ada komitmen dari pemerintah dalam upaya membangun SDM indonesia dari segi kesehatan mental.

Alokasi 1% untuk anggaran kesehatan mental, dari total keseluruhan anggaran kesehatan nasional, jelas tidak cukup untuk menangani permasalahan ini.

Belum lagi, tidak meratanya tenaga profesional kesehatan jiwa seperti psikiater dan psikolog adalah jelas sebuah masalah serius. Menurut dat dari WHO, indonesia masih sangat defisit tenaga psikiater. Penyebarannya pun sangat timpang.

Menurut WHO, Di indonesia hanya terdapat 48 Rumah Sakit Jiwa. ada 8 provinsi yang tidak memiliki RSJ sama sekali. dan ada 3 provinsi yang tidak memiliki psikiater. Di indonesia perbandingan psikiater adalah 1 : 300.000 pasien.

Padahal normalnya menurut WHO adalah 1 : 30.000.

Sebanyak 70% psikiater berada di Jawa. Dari 70% itu, 40%-nya berada di Jakarta. Sangat terpusat dan persebaran yang buruk. Bisa dikatakan bahwa Indonesia defisit layanan ini. 90% orang tidak dapat mengakses layanan kesehatan mental.

Membangun Manusia Indonesia Secara Mental dan Emosional

Tergerak oleh data dan fakta-fakta diatas, kami terdorong untuk ikut andil dalam membangun manusia indonesia dari segi kesehatan mental dan emosional.

Walau masih dipandang sebelah mata, kami dari Perkumpulan Praktisi Hipnosis dan Hipnoterapi Indonesia (PRAHIPTI), pun kemudian merasa terpanggil untuk membantu penanganan kesehatan mental ini.

Secara rutin, kami turun membantu orang-orang yang butuh bantuan dan dukungan secara psikis. Membantu mereka yang kehilangan kepercayaan diri akibat faktor psikologis seperti pelecehan, bullying, lingkungan yang negatif dan semacamnya.

Tak luput kami pun run memberikan bantuan kepada para korban bencana alam. Yang tentu bisa menjadi trauma mendalam jika tidak ditangani.

Memupuk SDM Yang Unggul. Menuai Indonesia Produktif. 6
Memupuk SDM Yang Unggul. Menuai Indonesia Produktif. 7
Memupuk SDM Yang Unggul. Menuai Indonesia Produktif. 10

Selain itu, pendampingan dan bimbingan terapi psikologis kepada para tenaga relawan dan medis juga perlu diberikan.

Memupuk SDM Yang Unggul. Menuai Indonesia Produktif. 11
Memupuk SDM Yang Unggul. Menuai Indonesia Produktif. 14

Keberadaan para praktisi hipnosis dan hipnoterapi bukanlah untuk mengganti peran dokter, psikolog dan psikiater. Tetapi justru menjadi bagian dari mereka untuk membangun manusia-manusia indonesia yang unggul dan berdaya secara mental dan psikologis.

Kesehatan Mental: Kunci Memupuk SDM Unggul dan Berdaya Saing

Apa yang kami lakukan di PRAHIPTI, belum ada apa-apanya untuk membangun kualitas SDM indonesia yang unggul dan berdaya saing.

Dibutuhkan peran aktif dari semua pihak. Terutama dari pemerintah dan para praktisi dibidang kesehatan mental ini.

Masalah kesehatan mental, tidak lagi boleh dipandang sebagi minor issue. Justru inilah kunci untuk membangun SDM yang unggul itu.

Ada masih begitu banyak PR yang harus dikerjakan. Seperti penyebaran jumlah tenaga profesional diseluruh Indonesia, implementasi terhadap undang-undang kesehatan jiwa yang masih reot, kesejahteraan praktisi kesehatan jiwa dan lain sebagainya.

Tetapi yang paling penting adalah membangun ekosistem pendidikan yang supportif terhadap isu-isu kesehatan mental dan emosional.

Gerakan Revolusi Mental yang pernah digaungkan oleh Presiden Jokowi, jelas adalah ide yang sangat cemerlang dalam pembangunan kualitas SDM nasional. Tentu jika Implementasinya massif dan meluas.

Program itu seharusnya tidak terbatas hanya pada segi pelaksanaan sistem birokrasi Negara. Tetapi mestinya meluas ke semua elemen. Terutama bidang pendidikan dan kesehatan.

Pendidikan punya peran krusial dalam mencegah masalah kesehatan mental kian terpuruk. Membangun manusia-manusia yang kuat secara otak emosionalnya sedari dini, jelas adalah langkah preventif yang paling powerful.

Menilik Ironi Sistem Pendidikan Nasional

Angka-angka produktivitas seperti di atas, sebenarnya didapat dari perbandingan antara nilai PDB dengan jumlah output per pekerja per jam.

Luxembourg menjadi negara yang sangat produktif, sebab dengan jam kerja yang minim bisa menghasilkan output yang begitu besar. Nilai PDB per jam Luxembourg adalah senilai $93.6. Bandingkan dengan Indonesia yang hanya $24.9.

Salah satu permasalahannya kemudian adalah masih tingginya angka pengagguran di Indonesia. Menurut data dari Badan Pusat Statistik, jumlah pengagguran Indonesia terus meningkat. Kini telah menyentuh angka 7.05 juta jiwa.

Tapi ada fakta yang menarik.

Pengagguran terbanyak justru disumbangkan oleh lulusan SMK sebanyak 8.63%. Sementara Diploma 6.89%. Bukankah kedua jenis pendidikan ini berorientasi pada penyerapan tenaga kerja?

Tapi coba lihat jumlah pengangguran dari lulusan SD ke bawah? Tahukah anda berapa nilainya? 2.65%. Artinya lulusan SD lebih banyak yang bekerja daripada mereka yang lulus SMK dan Diploma.

Memupuk SDM Yang Unggul. Menuai Indonesia Produktif. 15
Img from: katadata.co.id

Tidakkah semua ini menunjukkan bahwa ada sesuatu yang aneh dengan sistem pendidikan kita?

Isu ini memang klasik. Dan jawabannya pun klasik. Sistem pendidikan saat ini selalu bertumpu pada angka-angka yang merepresentasikan kecerdasan intelektual semata. Minim pendidikan secara emosional.

Dan jelas itulah yang menyebabkan semua masalah ketidaksiapan mental SDM-SDM kita seperti sekarang.

Tapi meski klasik, toh belum ada revolusi besar-besaran untuk mengubah wajah pendidikan sampai detik ini. Sistem pendidikan kita masih begitu-begitu saja.

Tahukah anda ditengah begitu majunya kecanggihan teknologi hari ini, wajah pendidikan tidak pernah berubah sejak ratusan tahun silam. Sistem sekolah masih sama seperti sekolah jaman dulu. Liat saja bangku-bangku di sekolahan formatnya masih seperti dulu. Format bus. Di mana siswa dideret dari depan ke belakang menghadap ke guru di depan.

Padahal dunia sudah terang-terangan berubah.

Dan skill-skill yang diajarkan disekolah sudah sama sekali tidak relevan dengan dunia 4.0 hari ini.

Bima Yudhistira, peneliti dari Institute For Development of Economic and Finance (INDEF), menyebutkan, “Ada ketidakcocokan antara skill yang diasah di sekolah dengan kebutuhan dunia kerja saat ini.

Shifting Di Dunia Pendidikan

Guru besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, Baru saja meluncurkan buku terbarunya bertajuk “The Great Shifting.

Buku ini, dengan epik mendedah bagaimana industri 4.0 membawa perubahan yang sangat besar terhadap berbagai aspek. Seperti bisnis, kesehatan, pariwisata dan tak terkecuali pendidikan.

Shifting, adalah bagian dari era disrupsi. Mereka yang tidak melakukannya bakal tergerus.

Prof. Rhenald Kasali menyebutkan, lama kelamanaan sistem pendidikan konvensional pasti akan ditinggalkan. Munculnya berbagai startup di bidang pendidikan seperti RuangGuru, IndonesiaX, dan lainnya adalah ciri bahwa shifting tengah dan akan terjadi.

Daripada terlambat, mengapa pemerintah tidak melakukannya sekarang. Mengubah sistem pendidikan konvensional, yang cacat, minim daya kreativitas, menuju ke sistem pendidikan yang lebih canggih. Yang berorientasi kecerdasan emosional.

Kita harusnya sudah sampai di titik itu. Bahkan beyond.

Tapi hari ini kita masih jauh tertinggal. Tapi meski begitu harus segera dilakukan. Harus ada kesungguh-sungguhan dalam mengubah arah dan tujuan pendidikan kita.

Mengubah sistem pendidikan, tidak cukup dengan sekedar menaikkan aggaran pendidikan. Pun tidak selesai dengan kartu indonesia pintar.

Yang dibutuhkan adalah revolusi besar-besaran dari dalam. Bukan hanya mengganti kurikulum semata. Bukan juga mengubah jam belajar sekolah.

Tapi mengubah arah dan budaya pendidikan nasional.

Sekolah adalah institusi yang akan mencetak pemimpin-pemimpin masa depan yang hebat, percaya diri, kreatif dan berpikiran kritis. Yang paling penting mampu mengenali masalah, serta melihat sesuatu dari sudut pandang solusi. Dengan kata lain, sekolah berfokus untuk mengasah otak emosional sang anak.

Angka-angka absurd seperti NEM, rangking dan IPK jangan lagi dijadikan alat untuk menjustifikasi kualitas seseorang. Kompetensi tidak boleh diukur dari hasil ujian tertulis.

Kita mesti percaya bahwa kecerdasan manusia itu dinamis. Bisa ditingkatkan. Di sebuah sekolah di Chicago bahkan sekarang diterapkan metode The Power of Yet. Seseorang bukan gagal, tapi diberlakukan kategori ”belum mahir”.

Kita menaruh harapan besar kepada pemimpin-peminpin muda seperti Nadiem Makariem dan kawan-kawan.

Peran Penting Pemerintah

Pemerintah adalah pemain sentral dalam isu ini. Selain menciptakan system pendidikan yang relevan, juga perlu membangun iklim pekerjaan yang ramah dengan karya anak bangsa.

Tidak boleh lagi ada fenomena seperti brain drain. Yaitu perginya tenaga ahli, intelektual, para ahli ke Negara lain, sebab dinegara sendiri ia malah tidak dihargai. Tak didukung untuk bereksplorasi dan berkarya.

Orang-orang seperti ini, mestinya dirangkul, diberdayakan, sebab pada merekalah berbagai permasalahan bangsa ini bisa dicari solusinya.

Jika memang kita serius membangun Indonesia, sudah selayaknya semua ini dilakukan dari sekarang.

Pemerintah tidak boleh menjadi penguasa yang melulu minta disuapi dan dilayani hak-haknya. Pemerintah perlu menjadi orang tua, yang mendidik dan mempersiapkan anak-anaknya menghadapi dunia baru yang berbeda.

Dalam buku Why Nation Fail, Acemoglu dan Robinson menerangkan bahwa Negara-negara yang berhasil keluar dari belenggu lumpur kemiskinan adalah Negara yang system institusi politik dan ekonominya bersifat inklusif. Bukan Ekstraktif.

Seperti apa Negara yang institusi politik dan ekonominya inklusif itu? Itu adalah ketika kekuasaan pemerintah itu dibatasi oleh chek and balance dan rule of law yang jelas. Dengan kata lain, konsentrasi kekayaan dan kekuasaan bukan hanya milik segelintir elit. Tetapi pemerintah membuka akses kepada semua pihak untuk berkarya. Institusi politik yang iklusif, juga akan membuka akses terhadap institusi ekonomi yang juga inklusif. Ditandai dengan adanya jaminan akan hak milik dan patent, kemudahan berusaha dan akses terhadap pasar yang terbuka serta adanya dukungan negara untuk memberikan akses yang mudah terhadap pendidikan dan kesempatan yang sama bagi semua warga negara untuk berpartisipasi dalam kehidupan ekonomi.

Kesimpulan: SDM Unggul. Indonesia Produktif

Tak lagi terbantahkan, SDM yang unggul, tangguh, sehat dan kuat, adalah ujung tombak nilai produktivitas sebuah bangsa. Termasuk Indonesia.

Untuk membangun SDM yang unggul dan berdaya saing itu, tidak semata berfokus pada faktor knowledge semata. Tapi faktor yang paling berpengaruh adalah faktor psikologis.

Di dunia mind technology, kami meyakini bahwa faktor psikologi mempengaruhi kesuksesan sebesar 90%. Sisanya baru faktor intelegensi.

Karena itulah demi mambangun manusia-manusia yang unggul, dan kuat secara intelektual dan mental, dibutuhkan revolusi besar-besaran di dalam tubuh pendidikan nasional kita.

Sistem pendidikan yang hanya bertumpu pada mencerdaskan otak intelektual sudah harus stop. Kedepannya dibutuhkan jenis skill yang berbeda. Yakni soft skill. Dan itu didapat dari kecerdasan otak emosional. Bukan intelektual.

Untuk darurat kesehatan mental yang saat ini melanda, biarkanlah para praktisi seperti kami di PRAHIPTI turun tangan. Tetapi ke depannya, manusia yang dicetak di sekolah tidak boleh yang cacat mental seperti ini.

Peran pemerintah untuk itu.

**Disclaimer: Artikel ini diikutsertakan Kadin Blog Competition 2019. Sebagai wujud eksistensi Kadin Indonesia, dalam pengembangan Sumber Daya Manusia.

Author

Blogger & content writer. Menulis seputar bisnis, marketing, personal growth, konten marketing, career dan hal-hal menarik lainnya. Suka ke warung kopi. Tapi tak begitu suka kopi.

Write A Comment

error: Content is protected !!