tantangan produktivitas

Apa tantangan produktivitas millenial jaman now?

Meski punya potensi yang lebih besar untuk menjadi generasi yang paling produktif (lantaran didukung oleh kecanggihan teknologi), faktanya tingkat produktivitas generasi millenial masih jauh dari yang diharapkan.

Prof. Robert Sorow, pakar ekonomi dari Amerika, mengatakan, “Anda bisa melihat era komputer sudah dimana-mana. Tapi di dalam statistik produktivitas, belum maksimal.

Jika memang demikian, lantas apa yang menghambat generasi millenial untuk menjadi lebih produktif?

Nah, topik itulah yang akan dikupas habis pada artikel ini…

Statistik Produktivitas

Sebenarnya memang dalam statistik produktivitas terdapat kenaikan angka produktivitas selama 40 tahun terakhir.

Mengapa Millenial Tidak Produktif? Ini 3 Tantangan Produktivitas Jaman Now 1

Ya, bisa dibilang kehadiran teknologi era, membuat kita bisa bekerja lebih mudah. Plus lebih efektif.

Namun, nampaknya para ilmuwan masih mengharapkan sesuatu yang lebih selama ini. Kita belum maksimal memanfaatkan dukungan era teknologi digital yang sudah begitu canggih.

Dalam konferensi tahunan Bank NBP di Eropa misalnya, Prof. Adam Glapiński, Direktur Utama Bank NBP Polandia, mengatakan, “Perlambatan produktivitas adalah fakta. Kita memang dikelilingi oleh inovasi. Tetapi revolusi yang dihasilkan iPhone, belum sebanding dengan revolusi yang dilakukan oleh mesin uap.”

Jelaslah bahwa sebenarnya, kita bisa meningkatkan produktivitas lebih jauh lagi, jika memanfaatkan digital power dengan baik.

Hanya saja nampaknya, digital power itu di sisi lain, juga membawa dampak yang negatif.

Point of Diminishing Return

Di dalam teori ekonomi, kita mengenal istilah The Point of Diminishing Return.

Suatu kondisi, dimana penambahan sumber daya, berpengaruh buruk pada hasil (output) pekerjaan yang di dapat.

Supaya gampang memahami apa itu point of diminishing return, kita ibaratkan sebagai seorang petani. Untuk meningkatkan hasil pertanian (output), maka ia menggunakan pupuk (sumber daya).

Hasilnya, lahan pertanian 1 hektar, setelah ditambah pupuk 1 sak, maka terjadi kenaikan produksi menjadi 100 kg jagung. Ketika ditambah lagi menjadi 2 sak, terjadi kenaikan sebesar 150%, menjadi 250 kg jagung. Begitu seterusnya.

Tapi apa yang terjadi ketika ditambah pupuknya menjadi 5 sak?

Mengapa Millenial Tidak Produktif? Ini 3 Tantangan Produktivitas Jaman Now 2
study.com

Ternyata, bukannya bertambah produksi jagungnya, tapi malah berkurang sebanyak 50% dari angka semula, menjadi 600kg. Jika ditambah lagi sampai 6 sak, ternyata produksi menjadi minus -70%.

Itulah point of diminishing return. Titik dimana pupuk berubah menjadi racun bagi tanaman. Karena penambahan unit tidak dibarengi dengan penambahan luas lahan.

High Tech’s Diminishing Return?

Di dunia teknologi digital, point of diminishing return adalah kondisi ketika gadget kita, social media kita, smartphone kita itu, sudah mengontrol hidup kita.

Alih-alih membantu menjadi lebih produktif, tekhnologi malah bikin kita tidak produktif sama sekali.

Sebuah riset menunjukkan hasil yang cukup mengagetkan. Menurut riset tersebut, hanya 26% pekerja yang menyelesaikan pekerjaan mereka di kantor, sebelum pulang kerja.

Bayangkan, ada 74% (lebih dari separoh) pekerja gak produktif di kantor.

Pertanyaanya… kok bisa?

Ngapain aja mereka?

Bisa jadi itulah titik dimana tekhnologi mengalami point of diminishing return. Menjadi High Tech’s Diminishing Return.

3 Tantangan Utama Produktivitas Jaman Now

Menurut Arry Rahmawan, Seorang Dosen Universitas Indonesia (UI) dan trainer pengembangan diri, setidaknya ada 3 tantangan utama generasi millenial yang menghambat produktivitas.

Ketiga tantangan tersebut adalah:[su_list]

  • Overwhelming (kewalahan)
  • Distraction (pengalihan)
  • Burn out (kelelahan)
[/su_list]

Tantangan Produktivitas Millenial #1: Overwhelming (kewalahan)

Masalah utama millenial untuk menjadi produktif adalah kewalahan.

Dilansir dari Mirror.co.uk, hasil study menunjukkan bahwa hampir setengah generasi millenial itu merasa kewalahan dalam kehidupan dan pekerjaan mereka sehari-hari.

Kenapa millenial kewalahan?

Sebab ada terlalu banyak hal yang ingin di selesaikan, namun tidak cukup sumberdaya (energi dan waktu) untuk itu.

Menurut study tersebut, ada setidaknya 30 hal yang merebut perhatian millenial, diantaranya masalah keuangan, jodoh, hidup sehat dan masih banyak lainnya.

Belum lagi serangan digital information setiap detiknya, email, notifikasi social media, youtube, chat group WA yang gatel rasanya kalo gak diintip, serta bombardir iklan yang ada di mana-mana.

Dan semua itu menguras habis pasokan energi kita.

Sangking banyaknya, sampai-sampai kita jadi bingung sendiri yang mana yang perlu dilakukan. Akibatnya, ya itu tadi.. tidak ada pekerjaan yang terselesaikan.

Tantangan Produktivitas Millenial #2: Distraction (Pengalih perhatian)

Tantangan produktivitas kedua terbesar adalah distraksi. Atau bisa dibilang gangguan. Gangguan yang bikin kita kesulitan fokus.

Barangkali ini jawabannya mengapa sedikit sekali millenial yang mampu menyelesaikan daily task-nya di kantor.

Kita hidup di zaman dimana fokus adalah sesuatu yang amat mahal. Bukan lagi masalah kemalasan.

Ada jutaan gangguan yang siap merebut fokus kita dalam bekerja. Dan yang terbesar, apalagi kalau bukan smartphone.

Terbukti, menurut hasil riset, 52% pekerja mengaku terdistraksi dengan smartphone mereka selagi bekerja.

Tapi masalah utamanya bukan di situ.

Masalahnya adalah ini: Meski tau bahwa kita terganggu, tapi gangguan itu bikin kita kecanduan. Istilahnya; Addiction to distraction.

Kita gak bisa mengelak distraksi itu. Social media dan WA seperti punya magnet tersendiri untuk selalu dicek. Dan inilah problemnya.

Addiction to distraction,” kata Robin Sharma, “akan menjadi kematian bagi produktivitas kreatif anda.

Tantangan Produktivitas Millenial #3: Burn Out (Kelelahan)

Meski tidak produktif, tapi faktanya kita juga mengalami kelelahan yang berlebihan.

Bayangkan, sudah capek-capek, tapi gak ada hasilnya…? What a waste of energy!

Pertanyaannya kemudian, kenapa millenial bisa kelelahan sedemikian?

Salah satu jawabannya menurut, Anne Helen Peterzen, reporter di Buzzfeednews.com, dalam artikelnya, How Millenials Became Te Burn Out Generation, menyebutkan bahwa, tidak adanya jarak yang jelas antara pekerjaan dan kehidupan sehari-hari.

Berapa banyak diantara kita, yang ketika pulang ke rumah, dan istirahat tapi masih kepikiran sama deadline yang harus diselesaikan?

Belum lagi, waktu istirahat kita masih membuka email, mengecek group whatsapp dan lain sebagainya. Sayangnya ini juga terjadi pada masa liburan. Waktu yang harusnya kita melepas diri dari kepenatan itu, malah kita gunakan untuk berpikir dan khawatir akan deadline-nya.

Akhirnya adalah tidak adanya work-life balance. Pekerjaan dan kehidupan sehari-hari menjadi bercampur satu sama lain.

Generasi Millenial kemudian dikenal sebagai “Burn Out Generation.


Nah, itulah setidaknya 3 tantangan produktivitas utama generasi millenial yang menghambat mereka menjadi lebih produktif dari generasi sebelumnya.

Meski faktanya memang ada kenaikan statistik produktivitas, namun seperti kata Prof. Adam Glanpinski, revolusinya tidak sebanding dengan revolusi yang dilakukan oleh mesin uap.

Dengan dukungan tekhnologi digital, Artificial Intelegence, Internet of Thing (IoT), mestinya generasi millenial mampu menjadi lebih produktif lagi.

Demikian, gimana menurut teman-teman?

Author

Blogger & content writer. Menulis seputar bisnis, marketing, personal growth, konten marketing, career dan hal-hal menarik lainnya. Suka ke warung kopi. Tapi tak begitu suka kopi.

Write A Comment